|
Penulis |
: |
Ridwan
Nurkarim, dkk |
|
ISBN |
: |
|
|
Editor |
: |
Dema Tesniyadi |
|
Desain Sampul |
: |
Tim Desain Media Edukasi |
|
Layout |
: |
Pitriyani |
Deskripsi
Buku ini lahir dari
sebuah keyakinan bahwa sekolah bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan,
tetapi juga ruang untuk menghidupkan nilai, budaya, dan amanah. Sebagai kepala
sekolah, saya memandang transformasi pembelajaran tidak selalu harus dimulai
dari hal yang rumit. Ia dapat tumbuh dari keberanian guru mengamati
lingkungannya, dari kebiasaan berdiskusi dan merefleksikan praktik mengajar,
serta dari kesediaan sekolah memberi ruang bagi inovasi yang berakar pada identitasnya
sendiri.
Melalui buku ini,
para guru SMPIT Banten Islamic School mendokumentasikan berbagai praktik
pembelajaran yang berangkat dari kearifan lokal Banten. Pembaca akan menemukan
tradisi pesantren seperti sorogan yang dikembangkan menjadi Sorogan 3 Level;
ajaran Pikukuh masyarakat Baduy yang dijadikan pintu masuk pembelajaran
ekologi dan kultural; permainan tradisional seperti engklek, bentengan, gobak
sodor, dan congklak yang diolah menjadi media pembelajaran; tradisi kuliner
seperti picungan dan Dedaharan Banten yang dihubungkan dengan
sains dan literasi digital; serta seni dan tradisi keagamaan seperti Ubrug,
Panjang Maulid, dan Marhabanan-Drailan yang dihadirkan dalam
pembelajaran sastra, akidah akhlak, dan fikih. Berbagai praktik tersebut menunjukkan
bahwa kearifan lokal bukan sekadar bahan pengenalan budaya, melainkan sumber
belajar yang hidup dan dekat dengan kehidupan murid.

